Pengamat Menilai Serangan dari Kubu Lawan ke Cabup Afni Blunder dan Pertanda Panik

Cabup Siak Dr.Afni bersama warga (foto: istimewa)

BeritaAzam.com, Siak – Suasana Pilkada Siak terus memanas. Ketua tim koalisi incumbent Alfedri-Husni, Zulfi Mursal, telah melancarkan serangan terbuka pada lawan-lawan mereka secara membabi buta. Serangan soal perempuan tak boleh memimpin jelas mengarah pada satu-satunya calon Bupati perempuan pertama di Siak, Dr.Afni Z, M.Si.

Pengamat politik Alexander Yandra mengatakan, tim incumbent telah membuat blunder politik. Menyerang Dr. Afni dengan isu bahwa perempuan tidak boleh memimpin dianggap tidak tepat karena mayoritas penduduk Siak adalah perempuan.

“Serangan terbuka yang jelas mengarah ke Dr.Afni menunjukkan bahwa ia telah menjadi ancaman serius bagi tim incumbent. Hal ini memperkuat citranya sebagai kuda hitam dalam pemilihan, lawan yang tangguh dan sulit dikalahkan. Tanda juga bahwa incumbent di Siak mulai panik dan takut kalah dengan calon Bupati perempuan ini,” kata Alex, Minggu (12/10) pada media.

Serangan yang dilontarkan tim incumbent justru memperkuat posisi Dr. Afni di mata pemilih, terutama di kalangan perempuan yang bisa jadi bangkit dan melihat Afni didzolimi dengan isu murahan gender.

“Apalagi Afni menanggapinya dengan tetap santun dan sabar, tetap kampanye ke kampung-kampung, ini justru akan menjadi poin besar di masa waktu krusial jelang pemilihan,” kata Alex.

Tak hanya diserang masalah isu gender, Dr.Afni juga mendapat serangan masalah KTP. Zulfi Mursal menyebut hanya Alfedri calon Bupati ber-KTP Siak, yang lain dituding malu ber-KTP Siak. Isu KTP ini kata Alex juga jauh lebih bikin blunder lagi.

Karena bukan substansial, dan jika ditelusuri faktanya dari ketiga calon Bupati Siak, cuma Afni yang asli Siak, lahir dan besar di Siak. Bahkan orang tua dan keluarga besarnya masih di Siak. Sementara Alfedri kelahiran Rokan Hulu, dan Irving kelahiran Pekanbaru.

BACA JUGA:  Beasiswa Prestasi S2 PHR, Peluang Emas Tempuh Pendidikan di Negeri Paman Sam

“Serangan terkait KTP ini tidak substansial dan hanya memperburuk posisi incumbent, terutama karena Afni adalah satu-satunya calon yang lahir dan besar di Siak, meskipun secara administratif ia ber-KTP Pekanbaru karena mengikuti suaminya. Ini akan melemahkan incumbent, terutama bagi masyarakat Siak yang mengenal Afni secara personal,” jelas Alex.

Sementara itu perihal serangan yang mengarah padanya, Dr.Afni menyatakan ia lebih ingin berfokus pada kampanye dan sosialisasi program saja.

“Silahkan rakyat Siak yang separuhnya adalah kaum perempuan, untuk menilai sendiri kelas dan kualitas mereka. Sayo fokus nak nge-GAS ajo, sosialisasi program ke masyarakat. Tando-tando kemenangan semakin nyato untuk nomor duo,” kata aktivis pejuang hak hutan tanah masyarakat Siak ini melalui laman medsosnya.

Begitupun masalah KTP, baginya masyarakat sekarang sudah cerdas. Siak adalah tanah kelahirannya, dan meski berpindah KTP karena harus ikut suami setelah menikah, bagi Afni Siak tetap menjadi rumah pulang.

“Sejak Siak belum ado listrik, masih Kecamatan sampai jadi Kabupaten, keluarga kami telah hidup di Siak. Datuk kami Guru Ngaji di Mempura dan pernah jadi Kepala KUA Siak. Nenek moyang kami mengabdi pada Sultan Siak. Sampai kini rumah pulang, Emak dan Ayah pun masih ado di Siak. Tempat matipun dah disiapkan di Siak. Jadi terpulang kepada masyarakat menilai,” tulis Afni.*